sukma w.


Penyesalan terbesar seorang guru adalah ketika melihat anak didiknya gagal. Meskipun pada dasarnya kegagalan seorang murid bukanlah kesalahan guru, namun mencerdaskan adalah amanah untuk para guru. Sehingga sudah semestinya guru dan murid saling bekerjasama untuk mencapai tujuan dari adanya pendidikan.


Pagi ini seorang wali murid tergesa-gesa masuk ke dalam ruang guru. Ia seorang ibu paruh baya dengan tubuhnya yang subur, tangan kanannya menenteng tas tangan dengan brand yang sulit ku ingat. Lengannya dipenuhi dengan gelang-gelang besar serta mencolok, tidak lupa jemarinya terdapat cincin batu akik yang besar.
‘terlalu glamour’ batinku

Dengan gayanya yang angkuh ia mulai berbicara setengah berteriak, “Mana yang namanya pak Manji Marello?”
Aku berdiri dari dudukku, “Saya bu, apa ada yang bisa saya bantu?”

Ibu tersebut berjalan menuju mejaku, gelangnya ikut berbunyi tiap kali ia mengibaskan tangannya. Setelah sampai di depanku ia langsung duduk sambil menatapku sinis.

“Ohh ini Pak Panji Marello, masih kecil ya?” ucapnya dengan nada mengejek
Aku tetap berusaha tersenyum, “Maaf, ada apa ya bu?”
“huhh.. langsung aja ya, sebenarnya saya sibuk tapi saya tetap tidak terima dengan perlakuan mas Panji terhadap anak saya,” ucap ibu tersebut dengan penuh penekanan ketika menyebut namaku.
“Kalau boleh tau siapa nama anak ibu?” tanyaku lagi
Ibu itu melengos, “Saya ibunya Nanda, saya ingin protes tetang anak saya. Bisa-bisanya kamu membuat anak saya tidak naik kelas.”

Aku tersenyum kecut, “Maaf bu tapi saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat anak ibu dapat mengikuti semua pelajaran dengan baik. Namun hasil akhirnya tetap tergantung pada kemauan anak ibu untuk belajar dan berusaha.”
“Heyy! Anak saya bilang kalau nilai Ekonominya selalu jelek karena harus dibagi dua. Huh kalau begitu terus mana ada anak yang dapat nilai bagus.” Bentak ibunya Nanda
“Maaf bu, tapi itu konsekuensi dari apa yang sudah Nanda lakukan. Saya sudah bilang pada semua anak jika ada anak yang ketahuan mencontek maka nilainya akan dibagi dua. Bukan apa-apa bu, saya hanya melakukan tugas saya saja.”
Ibunda Nanda sedikit terkejut, tapi untuk menahan gengsinya ia tetap marah, “Pokoknya saya ngga mau tau, saya mau anak saya naik kelas!”
“Bu…”
“Harus!” potong ibunda Nanda, tangannya menggebrak mejaku membuat semua orang menatap ke arah kami.

Pak Najmudin yang mengetahui hal ini pun datang menemuiku dan ibunya Nanda. Dengan langkah yang tegap dan berwibawa, beliau berdiri disampingku.
“Maaf bu, ini sekolah bukan pasar. Kita semua orang berpendidikan bukan?” ujar pak Najmudin
“Tapi pak, gara-gara guru ini anak saya tidak naik kelas. Malu saya pak, saya pikir anak saya tidak sebodoh itu.” Sahut ibunda Nanda, jari telunjuknya diacungkan tepat ke wajahku.
Pak Najmudin tersenyum ramah, “Saya tau perasaan ibu, rasa sedih ataupun malu itu wajar-wajar saja. Tapi bukan berarti ibu bisa menyalahkan orang lain. Sebaiknya sekarang ini ibu lebih peduli dan ikut mengawasi cara belajar nak Nanda, supaya tahun depan bisa lebih baik.”
“Lagipula yang mengajar nak Nanda kan tidak hanya mas Panji, dia hanya wali kelas bu. Yang berhak memberi nilai ya pengampu masing-masing mata pelajaran.” Lanjut pak Najmudin
“Tapi pak saya kasian sama Nanda, dari kemarin dia sedih terus. Ngga mau makan, ngga mau keluar kamar. Saya jadi nelangsa litanya pak.”

Pak Najmudin tersenyum kembali, “Nah itu tugas anda, mengembalikan senyum Nanda dan lebih memperhatikan perilakunya. Tugas kami hanya sampai di gerbang sekolah ini, selebihnya kami tidak bisa terus mengawasi anak-anak kami yang sudah tidak terhitung jumlahnya.”
“Guru itu hanya membantu tugas orang tua, bukan menggantikan. Seperti anak saya yang ingin jadi dokter, saya suruh dia kuliah di kedokteran karena saya tentu tidak akan mampu mengajarinya sendiri. Tapi bukan berarti semua tugas saya untuk mengajari anak saya hilang, tidak. Tugas saya tetap ada, hanya saja untuk yang tidak bisa saya lakukan sendiri saya meminta bantuan pada pihak lain. Jadi ketika anak saya sukses itu karena adanya bantuan dari pihak lain. Tapi ketika anak saya gagal, itu karena kelalaian saya untuk lebih memperhatikannya.” Lanjut pak Najmudin
“Maafkan saya pak, mas Panji. Sepertinya memang sayalah yang kurang memperhatikan Nanda. Saya permisi dulu..” ujar ibunda Nanda sambil menunduk, berjalan keluar dari ruang guru.

Aku menghela napas panjang. Ahh hidup ini harus berkaca. Benar kata Pak Najmudin, guru hanyalah membantu.

“Terimakasih pak,” kataku kemudian
Pak najmudin menoleh padaku, “Untuk apa? Saya hanya menyampaikan kebenaran.”

Aku menerawang ke langit-langit kantor, “Sebenarnya inilah yang dari dulu saya khawatirkan. Saya takut membuat anak didik saya gagal, saya takut membuat mereka seakan tidak memiliki masa depan karena kesalahan saya, saya takut saya tidak cukup pandai dalam menyampaikan materi hingga mereka tidak paham, saya takut….”

“Pak Panji..” ucapan Pak Najmudin memotong kalimatku, aku menoleh

“Takut itu wajar, anda tau dokter? Dia bahkan berhubungan dengan hidup dan mati seseorang. Tetangga saya seorang dokter spsialis dalam, suatu hari dia melakukan operasi. Lalu ternyata pasiennya meninggal. Seluruh keluarga pasien menyalahkan dokter tersebut karena tidak mau menundanya dan tetap melakukan operasi. Lalu menurut anda bagaimana perasaan dokter tetangga saya itu?”

“Merasa bersalah?” kataku dengan lugu

Pak Najmudin tersenyum, “Tentu saja, tapi bukan berarti setelah itu dia akan menutup tempat prakteknya. Bahkan dokter itu ikut datang melayat dengan muka terangkat, karena yaa memang profesinya menuntut untuk demikian.”
“Saya mengerti pak,” sahutku kemudian
“Bagus! Bersemangatlah..” ujar pak Najmudin sambil berlalu dari mejaku

Aku merenung kembali, semua pilihan memiliki resiko. Aku hanya perlu meminimalisir dari resiko-resiko tersebut, berusaha terbaik dari yang baik. Memang, tidak ada suatu hal pun yang tanpa konsekuensi. Bahkan ketika dulu aku memutuskan untuk mengambil pendidikan yang lebih tinggi pun aku memiliki konsekuensi untuk jauh dari keluarga.

Konsekuensi menjadi anak perantauan demi meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik. Memang awalnya tidak mudah, melepaskan zona nyaman yang begitu indah. Kaki ini begitu berat untuk melangkah meninggalkan kota kelahiran. Namun jika aku memilih untuk tetap tinggal, konsekuensinya aku tidak dapat meraih cita-citaku. Bukankah konsekuensi kedua lebih buruk?




0 Responses

Post a Comment